Tue. Apr 16th, 2024
Mejarang jaje lempeng merupakan salah satu tradisi yang ada di Banjar Sebatu, Tegalalang, Gianyar, Bali. Tradisi ini juga sering disebut dengan Karya Nuuh yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali sebelum diadakan tradisi ini, masyarakat di banjar Sebatu mempersembahkan sesajen berupa banten yang ditempatkan pada Nampan (sok kepe ) yang berisi jajan-jajan khas nya seperti : jajan lempeng, jajan crorot, jajan buntilan dan juga jajan lapis. Bukan hanya jajan tetapi juga diisi dengan berbagai macam buah kemudian banten itu di suun ke pure desa Banjar Sebatu untuk dipersembahkan (Suun adalah istilah dari membawa banten yang diletakan di atas kepalanya untuk dihaturkan). Kemudian semua masyarakat nangkil (duduk) dan menyaksikan ritual pada saat itu ada sesorang laki-laki yang di upacarai oleh jro mangku ia dipilih menjadi tukang adur yang nantinya akan menjadi penjaga dari sesajen yang akan di jarag (direbut). Tukang adur (penjaga aturan yang disebut dengan banten) mengikuti perkataan dari jro mangku yang sedang membacakan mantra, setelah selesai semua masyarakat melakukan persembahyangan. Tidak sembarang orang bisa menjadi tukang adur karena orang yang bisa hanyalah laki-laki yang mempunyai anak laki-laki dan perempuan baru bisa menjadi tukang adur. Selesai bersembahyang semua masyarakat bergegas ke Nista Mandala Pura untuk menyaksikan tradisi tersebut, kulkul pun dipukul dan semua anak-anak yang mengikuti tradisi sudah tidak memakai baju dan mereka bersorak kecang " Suryakin eee, suryakin eee, suryakin eee yang hanya dapat mengikuti tradisi hanya laki-laki saja. Bukan hanya itu ketika laki-laki itu sudah melakukan upacara potong gigi (mesangeh) tidak diperbolehkan mengikuti tradisi mejarag tersebut. Masyarakat menunggu orang yang menegen (membawa sesajen yang diletakan di atas pudak) sesajen tersebut dengan penuh hikmat. Sesajen tersebut di tegen oleh empat orang, kemudian menyusul tukang adur pun keluar ke jabe pura atau yang disebut dengan Nista Mandala pura (datang dari candi) dengan membawa tiga biji lidi yang diikat memakai benang Tridatu, kemudian ketika sesajen yang akan dijarag (direbutkan) telah berada di area mejarag maka anak-anak akan berlali, melompat dan berebut untuk mendapatkan sesajen itu kemudian tukang adur pun memukul pundak anak-anak itu dengan lidi. Tradisi itu selesai ketika sesajen yang direbutkan itu sudah habis didapatkan oleh anak-anak barulah tradisi itu berakhir dan disusul dengan ngelungsur banten (menggambil banten ke Utama Mandala pura). Makna dari tradisi mejarag jaje lempeng adalah sebagai ungkapan rasa syukur atas segala anugrah berupa kesuburan dan hasil melimpah dari hasil pertanian yang telah diberikan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa, serta memohon keselamatan dan perlindungan.

MEJARAG JAJE LEMPENG

OLEH : NI KADEK PEBRI INSTANI (XAP6)

 

Mejarang jaje lempeng merupakan salah satu tradisi yang ada di Banjar Sebatu, Tegalalang, Gianyar, Bali. Tradisi ini juga sering disebut dengan Karya Nuuh yang dilaksanakan  setiap satu  tahun sekali sebelum diadakan tradisi ini, masyarakat di banjar Sebatu mempersembahkan sesajen berupa banten yang ditempatkan pada Nampan (sok kepe ) yang berisi jajan-jajan khas nya seperti : jajan lempeng, jajan crorot, jajan buntilan dan juga jajan lapis. Bukan hanya jajan tetapi juga diisi dengan berbagai macam buah kemudian banten itu di suun ke pure desa Banjar Sebatu untuk dipersembahkan  (Suun adalah istilah dari membawa banten yang diletakan di atas kepalanya untuk dihaturkan). Kemudian semua masyarakat nangkil (duduk) dan menyaksikan ritual pada saat itu ada sesorang laki-laki yang di upacarai oleh jro mangku ia dipilih menjadi tukang adur yang nantinya akan menjadi penjaga dari sesajen yang akan di jarag (direbut). Tukang adur (penjaga aturan yang disebut dengan banten) mengikuti perkataan dari jro mangku yang sedang membacakan mantra, setelah selesai semua masyarakat melakukan persembahyangan. Tidak sembarang orang bisa menjadi tukang adur karena orang yang bisa hanyalah laki-laki yang mempunyai anak laki-laki dan perempuan baru bisa menjadi tukang adur. Selesai bersembahyang semua masyarakat bergegas ke Nista Mandala Pura untuk menyaksikan tradisi tersebut, kulkul pun dipukul dan semua anak-anak yang mengikuti tradisi sudah tidak memakai baju dan mereka bersorak kecang ” Suryakin eee, suryakin eee, suryakin eee  yang hanya dapat mengikuti tradisi hanya laki-laki saja. Bukan hanya itu ketika laki-laki itu sudah melakukan upacara potong gigi (mesangeh) tidak diperbolehkan mengikuti tradisi mejarag tersebut.                                   Masyarakat menunggu orang yang menegen (membawa sesajen yang diletakan di atas pudak) sesajen tersebut dengan penuh hikmat.  Sesajen tersebut di tegen oleh empat orang, kemudian menyusul tukang adur pun keluar ke jabe pura atau yang disebut dengan Nista Mandala pura (datang dari candi) dengan membawa tiga biji lidi yang diikat memakai benang Tridatu, kemudian ketika sesajen yang akan dijarag (direbutkan) telah berada di area mejarag maka anak-anak akan berlali, melompat dan berebut untuk mendapatkan sesajen itu kemudian tukang adur pun memukul pundak anak-anak itu dengan lidi. Tradisi itu selesai ketika sesajen yang direbutkan itu sudah habis didapatkan oleh anak-anak barulah tradisi itu berakhir dan disusul dengan ngelungsur banten (menggambil banten ke Utama Mandala pura). Makna dari tradisi mejarag jaje lempeng adalah sebagai ungkapan rasa syukur atas segala anugrah berupa kesuburan dan hasil melimpah dari hasil pertanian yang telah diberikan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa, serta memohon keselamatan dan perlindungan.