Tue. Apr 16th, 2024

    Pengerupukan

       Pengerupukan adalah tradisi yang masih bertahan di daerah Bali. Diadakan sebelum perayaan Nyepi, pada saat itu, akan ada banyak Ogoh-ogoh yang turun ke jalan-jalan di Bali. Ogoh- ogoh melambangkan elemen buruk yang harus dihancurkan dan membawa kembali unsur yang baik untuk lingkungan.
Selain di jalan, perayaan pengerupukan juga diadakan di setiap rumah Hindu di Bali. Perayaan tersebut termasuk membuat api di depan setiap rumah dan membuat suara-suara di dalam rumah, yang diyakini akan mengirimkan semua elemen jahat agar pergi dari rumah.
Pada malam pengerupukan ini, di bali biasanya tiap desa dimeriahkan dengan adanya ogoh-ogoh yang diarak keliling desa disertai dengan berbagai suara mulai dari kulkul, dan juga “keplug-keplugan” yaitu sebuah petasan khas bali yang mengeluarkan suara keras dan menggelagar seperti suara bom, yang dihasilkan dari proses gas dari karbit dan air yang dibakar mengeluarkan suara ledakan yang mengelegar. Ogoh-ogoh umumnya dengan rupa seram, mata melotot, susu menggelantung yang melambangkan buta kala dalam berbagai rupa, juga menunjukkan kreativitas dari orang Bali yang luar biasa yang terkenal akan seni dan budayanya.

Pengerupukan merupakan tradisi yang sangat kental dan menjadi ciri khas dari perayaan hari suci agama hindu di Bali yaitu hari raya Nyepi yang dilakukan umat hindu di setiap banjar masing-masing di sampimg tradisi mengarak ogoh-ogoh,, umat hindu juga melakukan upacara di mrajan masing-masing untuk menyeimbangkan antara Buana Agung dan Buana Alit yang bertujuan agar semua umat Hindu mendapatkan keselamatan serta mampu melaksanakan Penyepian dengan baik. Hari Raya Nyepi adalah hari raya yang adalah hari raya suci umat beragama Hindu yang diakui oleh pemerintah dan menjadi Hari raya yang sakral bagi umat Hindu di Bali.