Tue. Apr 16th, 2024

Tradisi Ngerebeg

OLEH: NI KADEK DWI PADMA YANI

XAP7

Ngerebeg merupakan suatu tradisi yang untik sekaligus menarik yang berasal dari Desa Tegallalang, lokasi tegallalang sangat strategis, berada di jalur wisata dengan tujuan kintamani dan berdekatan dengan kawasan pariwisata Ubud, sehingga kawasan ini sudah sangat terkenal di kalangan wisatawan mancanegara. Yang sangat menarik dari Desa Tegallalang ini selain dari objek-objek wisata yang ada, tradisi yang ada di desa ini sangatlah unik salah satunya ngerebeg, ngerebeg biasanya digelar 6 bulan sekali bertepatan dengan Buda Kliwon Pahang atau hari Pegat Uwakan. Tradisi yang satu ini sudah menjadi sebuah rutinitas yang kerap digelar secara rutin oleh 7 Banjar adat di desa perkaman Tegallalang ini, karena semua warga percaya jika tradisi ini di gelar maka akan mendatangkan hal buruk yang akan menimpa warga desa. Banyak wisatawan dari mancan negara berbondong-bondong datang untuk menyaksikan secara langsung tradisi ini, partipan dari ngerebeg ini melibatkan anak laki-laki sehingga seka truna termasuk mereka yang sudah dewasa sebagai partipan dari tradisi yang satu ini. Semua laki-laki yang ikut serta dalam tradisi ini harus memakai riasan yang menakutkan dan berwajah yang terkesan seram, wajah dan badan di rias menggunakan beraneka warna, termasuk aksesoris pendukung agar penampilan merekan semakin menarik.
Semua peserta dari tradisi ngerebeg ini akan berjalan berkeliling desa sepanjang 6 km, ini tentunya menjadi suatu tontonan yang mengagumkan bari wisatawan maupun penduduk sekitar yang turut serta dalam menyaksikan tradisi yang satu ini. Wajah serta penampilan yang seram dari peserta tradisi ngerebeg ini menjadi simbol atau wujud dari wong samar (mahluk halus) yang biasanya suka mengganggu anak-anak, tradisi ini juga menjadi ritual yang dilakukan oleh warga desa pekraman Tegallalang dengan tujuan untama untuk memberikan tempat bagi wong samar, memberikan persembahan agar bisa hidup berdampingan dengan manusia, dan tidak saling mengganggu, itulah tujuan utama dari tradisi ini digelar. Para penduduk Desa juga percaya tidak boleh menghalangi seseorang yang ingin ikut berpartisipasi dalam tradisi ini karena jika itu terjadi maka akan mengakibatkan hal buruk terjadi. Jadi hal itulah yang membuat tradisi yang satu ini begitu sakral, walaupun tampilan mereka dibuat seram dengan riasan yang seadanya, namun filosofinya sangat tinggi bagaimana manusia bisa menjaga keharmonisan dengan mahluk sekitarnya termasuk juga dengan wong samar (mahluk halus).