Fri. Aug 6th, 2021
 Ni Ketut Widiani – X AP 7

Tradisi Bukakak ini dilakukan di desa adat Sangsit, Kecamatan Sawan, Buleleng, Bali, Indonesia.                               Terdiri dari kata  Bukakak yang  memiliki arti  babi guling yang matang hanya pada bagian atas atau punggungnya  saja. Upacara ini  digelar dua tahun sekali, pada bulan April atau bulan purnama sasih kedasa menurut kalender Bali.

Nama Bukakak berasal dari kata Lembu (lambang Siwa) dan Gagak (lambang Wisnu). Bukakak diwujudkan sebagai seekor burung garuda/paksi yg terbuat dari ambu/daun enau muda serta dihiasi bunga kembang sepatu/pucuk bang. Sarana yang ditempatkan di dalam Bukakak itu adalah seekor babi (lambang Dewa Sambhu) yang diguling hanya bagian punggungnya saja sedangkan bagian bawah dibiarkan mentah, sehingga bagian babi tersebut memiliki 3 warna, yaitu merah atau bagian matang, hitam atau bagian yg masih ada bulunya (Dewa Wisnu),  dan  putih atau bagian yang  masih mentah dan bulunya telah dihilangkan (Dewa Siwa). Jadi Bukakak sendiri merupakan simbol perpaduan antara sekta Siwa, Wisnu dan Sambhu.

Digelarnya tradisi Bukakak bertujuan untuk mengucapkan rasa terima kasih kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai dewi Kesuburan, atas kesuburan tanah dan segala hasil pertanian yang melimpah. Wilayah Desa Giri Emas (Dangin Yeh)  memiliki areal pertanian yang luas, tanahnya yang subur dan gembur, sehingga  sebagian besar warganya berprofesi atau bermata pencaharian sebagai petani.  Hal inilah yang  melatarbelakangi mengapa  tradisi Ngusaba Bukakak ini masih  berkembang baik sampai sekarang ini.

By admin