Fri. Mar 5th, 2021
I Kadek Teguh Saputra - OSIS

Ratusan masyarakat setempat menyaksikan atraksi “Raja Kuning” ( Panjat pohon pinang ) yang di sakralkan masyarakat di kawasan Banjar Sema ,Kecamatan Payangan ,Gianyar pada Umanis Kuningan tepatnya.

Kegiatan ini bukan sekedar panjat pinang seperti pada 17 Agustusan ,Namun merupakan tradisi turun temurun yang dilakukan masyarakat desa pekraman Sema ,yang lokasinya si tengah-tengah pulau Bali ,10 km dari wisata Ubud.

Sebelum kegiatan panjat pohon pinang dimulai, diawali dengan persembahyangan bersama oleh masyarakat, baru kemudian atraksi dimula, dan pelaksanaanya setiap umanis kuningann dan tidak pernah absen kecuali desa tersebut mengalami halangan ( cuntaka ). Pohon pinang sebelum di panjat di buat halus dan di bagian pohon diisikan oli supaya licin, sehingga sulit mendapatkan berbagai hadia yang tergantung di atas pohon pinang ,pohon pinang yang di panjat tingginya mencapai 20m.

Pemanjat pohon pinang adalah pria pilihan dari anak-anak muda yang sudah pandai memanjat pohon. Para pemanjat dengan muka yang di hias sedemikian rupa, begitu masuk arena mendapat sorakan untuk memberi semangat para pemanjat. Para pemanjat itu akan bertambah ambisi untuk bisa meraih hadiah yang tergantung di atas pohon ,di tambah lagi dengan diiringi bunyi gambelan dan sorakan pengunjung yang hadir sebagai upaya membakar semangat para pemanjat.

Wisatawan mancan negara yang hadir. Ada datang secara perorangan maupun berkelompok yang khusus menyaksikan kegiatan sepertinya disakralkan oleh penduduk setempat ,karena segala sesuatunya di lakukan dengan tulus ikhlas dan di upacarai sebelum dimulai. Sejumlah tokoh masyarakat menyebutnya bahwa kegiatan ini belum di ketahui kapan di mulainya, karena sejak diingat sudah berlangsung kegiatan “RAJA KUNING “

By admin