Fri. Mar 5th, 2021
I Putu Essa Resthagangga  - OSIS

Di Desa Suwat, Gianyar ini memang memiliki cara berbeda dalam menyambut hari baru di setiap tahunnya.Tradisi yang merupakan warisan para leluhur mereka yang bernama Perang Air.Perang Airdi Gianyar adalah salah satu tradisi unik yang dipercayai sebagai bentuk pembersihan diri dari hal-hal negatif yang sudah terjadi pada tahun sebelumnya agar di tahun yang baru ini diharapkan tidak menimpa mereka lagi. Menurut mereka di awal tahun yang baru wajib bagi mereka untuk melakukan pembersihan pada alam sekitar dan diri sendiri agar pengaruh negatif yang ada di lingkungan sekitar ataupun di dalam diri kita sendiri dapat segera dimusnahkan agar dapat menjadi kepribadian yang lebih baik lagi dari tahun sebelumnya.Biasanya sebuah tradisi atau ritual di Bali lebih banyak digelar saat pergantian tahun Baru Saka yang bertepatan dengan rangkaian perayaan Nyepi, seperti juga sebuah tradisi Perang Air atau Siat Yeh yang digelar di desa Jimbaran Badung, digelar setelah perayaan hari Raya Nyepi. Tetapi tradisi Perang Air di desa Suwat Gianyar ini digelar setiap pergantian tahun Baru Masehi, sehingga setiap tanggal 1 Januari anda bisa menyaksikan bahkan bisa terlibat langsung untuk ikut merayakan tradisi tersebut.

Selain sebagai simbol untuk membersihkan diri dan lingkungan sekitar, konon dalam sejarahnya di desa Suwat, kabupaten Gianyar terdapat sumber mata air yang dipercayai sebagai obat dari segala macam penyakit dan air konsumsi utama para raja-raja pada zaman kerajaan. Untuk menghormati sumber mata air tersebut maka penduduk Desa Suwat mewajibkan untuk menggelar Tradisi Perang Yeh ini, agar sumber mata air yang ada di desa mereka terus mengalir, karena perlu kita sadari air adalah komponen penting di dalam kehidupan manusia yang mesti kita jaga.

Sebelum memulai Tradisi Perang Air atau Siat Yeh, biasanya penduduk Desa Suwet, Gianyar akan menggelar persembahyangan bersama di catus pata Desa Pekraman adat Suwat. Dalam menggelar persembahyangan ini akan dipimpin oleh lima orang Jro Mangku. Kelima Jro mangku yang akan memimpin persembahyangan ini akan duduk menghadap empat arah mata angin dan satu orang diantara kelimanya akan duduk ditengah. Semua penduduk Desa Suwat sangat khusyuk dalam melakukan persembahyangan yang dipimpin oleh lima Jro Mangku Desa adat Suwet. Dalam persembahyangannya Penduduk Desa Suwet memohon restu k ehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai wujud Dewa Wisnu, yang mana Dewa Wisnu disimbolkan dengan air dalam kehidupan nyata. Setelah itu, akan dilakukan penyiraman yang mana pengayah atau peserta yang akan terlibat dalam tradisi ini akan diguyur dengan air kembang oleh para pinandita Desa Suwat, setelah itu para peserta akan dibagi menjadi dua kelompok, agar dalam Tradisi Perang Yeh ini memudahkan para peserta untuk mengetahui mana kawan ataupun lawan.

Sumber : Diolah Dari Berbagai Sumber

By admin