Menjaga Kesucian dan Keharmonisan Budaya Bali

Menjaga Kesucian dan Keharmonisan Budaya Bali
Oleh : Ni Kadek Lolik Prasintya

Pura sebagai tempat berkembangnya kebudayaan

Budaya merupakan suatu kebiasaan  seseorang maupun sekelompok orang yang dilakukan secara terus menerus dan diturunkan dari leluhur ke anak cucunya. Ada banyak tokoh  yang ikut menyumbangkan buah pikirannya mengenai budaya. Seperti Ki Hajar Dewantara. Bagi beliau, budaya adalah hasil dari usaha perjuangan masyarakat pada alam serta zaman yang memberikan bukti kemakmuran dan kejayaan hidup. Selain itu, Koentjaraningrat juga memiliki pendapat tentang pengertian budaya. Menurut ia sendiri, budaya adalah sebuah gagasan, rasa, tindakan serta karya dari manusia selama hidupnya. Dan masih banyak lagi tokoh yang ikut menyumbangkan buah pikirannya mengenai kebudayaan. Dari sini sudah dapat kita lihat bahwa  pemahaman mengenai budaya tidak terbatas. Namun demikian, seiring perkembangan zaman dan modernisasi, budaya juga akan ikut mengalami perkembangan.

Kegiatan ritual keagamaan sebagai bagian dari kebudayaan

Bali, salah satu pulau kecil yang ada di Negara Kesatuan Indonesia dengan alamnya yang indah. Banyak orang yang lebih mengenal daerah Bali dibandingkan  daerah lainnya di Indonesia. Mengapa Bali? Mengapa tidak daerah lainnya yang ada di Indoneia? Padahal, jika dilihat daerah lain tidak kalah indahnya dengan daerah Bali. Hal ini tentu ada kaitannya dengan  keberagaman budaya yang dimiliki oleh daerah Bali.

Bali merupakan pulau kecil yang kaya akan budaya. Budayanya yang  beragam dan alamnya yang indah sudah dikenal dikancah Internasional. Banyak wisatawan  baik itu wisatawan lokal maupun wisatawan manca negara datang ke Bali untuk melihat alam Bali yang asri dan keberagaman budaya  yang masih  dipegang teguh oleh masyarakat. Tidak hanya menikmati saja, bahkan beberapa wisatawan yang datang ke Bali  ikut mempelajari kebudayaan Bali, seperti menari, metabuh, serta mengukir. Setelah beberapa waktu ia mempelajariya, ia akan kembali ke negaranya dengan membawa budaya yang telah ia pelajari selama berada di Bali.

Bukan hanya budayanya, Bali juga dikenal dengan Pulau Seribu Pura. Dari pura yang berukuran kecil hingga pura yang berukuran besar, semua dapat ditemui di pulau Bali. Contohnya saja Pura Besakih yang menjadi salah satu daya tarik wisata di Bali. Pura ini sering disebut dengan Besakih Mother of  Temple yang terletak di kaki Gunung Agung, Kabupaten Karangasem. Pura ini sangat disucikan oleh umat Hindu di Bali. Oleh karena keindahan pura ini, banyak wisatawan yang datang ke Pura Besakih. Untuk tetap menjaga kesucian pura, telah ditetapkan aturan yang diperuntukan bagi para wisatawan yang berkunjung ke pura-pura yang ada di daerah Bali. Seperti penggunaan pakaian yang rapi dan sopan  selayaknya pakaian yang digunakan untuk memasuki areal suci yaitu minimal menggunakan kain yang disebut dengan kamen dan selendang.

Selain itu, larangan bagi para wisatawan wanita yang sedang berhalangan , dilarang untuk memasuki areal suci pura. Namun, beberapa wisatawan tetap  saja tak acuh dan melanggar peraturan yang telah dibuat. Namun, jika dilihat dari sudut pandang lain, kejadian  ini tidak sepenuhnya kesalahan dari wisatawan , tetapi juga kesalahan dari pemandu wisata yang tidak secara maximal  mengontrol perjalanan wisatawan selama berwisata di daerah tersebut. Hal ini tentunya sudah mengurangi kesucian  dan keharmonisan pura di Bali. Masyarakat Bali yang seharusnya  menjaga keharmonisan budaya Bali namun tidak menjaganya demi rupiah semata.

Tidak hanya di dunia pariwisata, di kalangan remaja hal ini sudah biasa terjadi. Demi mengikuti perkembangan zaman, para remaja mulai meninggalkan budaya yang telah diwariskan  sejak dulu dari generasi ke generasi. Mulai dari berbusana adat bali yang seharusnya sopan dan rapi, namun  sekarang busana adat bali dirancang lebih terbuka. Penggunaan bahasa bali yang seharusnya dipahami oleh semua masyarakat Bali sebagai bahasa ibu namun sekarang mulai ditinggalkan karena banyaknya remaja yang menggunakan bahasa prokem atau bahasa gaul. Parahnya lagi, ketika para petua berbicara dengan bahasa bali halus, beberapa remaja tidak paham akan apa yang dikatakan oleh petua tersebut. Padahal dari kebudayaan dan keramah-tamahan  inilah yang akan membuat Bali semakin maju dan  berkembang. Jika tidak remaja Bali, siapa lagi yang akan melestarikan budaya Bali? Bali hidup dan terkenal oleh wisata budayanya. Jika saja budaya  Bali punah, Bali tidak akan seperti Bali yang kita kenal sekarang. Melihat kejadian ini, kini sedang gencar-gencarnya dilakukukan upaya  pelestarian budaya Bali. Tentunya ini juga akan menjadikan wisata di Bali lebih maju lagi. Upaya tersebut antara lain seperti yang dilakukan oleh pemerintah untuk mewajibkan masyarakat Bali menggunakan busana adat bali di hari tertentu. Selain itu untuk menjaga kebersihan Bali, pemerintah juga berusaha untuk mengurangi penggunaan plastik, serta untuk melestarikan sastra bali pemerintah juga mewajibkan penggunaan aksara bali di setiap nama-nama usaha, instansi, kantor pemerintahan serta sekolah-sekolah. Serta masih banyak lagi usaha-usaha yang bisa dilakukan guna melestarikan budaya-budaya yang ada di Bali.

Sebagai generasi harapan bangsa yang berbudi pekerti luhur,  kita harus sadar betapa pentingnya mempelajari budaya bali. Dan sebagai masyarakat bali yang peduli akan budaya bali, seharusnya kita ikut melaksanakan serta mendukung upaya-upaya dari pemerintah guna keberlangsungan wisata Bali yang sarat akan budaya tradisi leluhur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *